SILSILAH KELUARGA:
Datu lelaki (nama?) berasal dari sebelah Ayah, berasal dari Sampoiniët, Pasé (Acheh
Utara). Datu lelaki saya ini adalah berlatar keluarga Ulèbalang di kawasan Sampoiniët, yang memiliki banyak kekayaan. Dalam perang melawan kolonial Belanda pada akhir tahun 1800-an, Datu lelaki saya ini bersama beberapa pasukannya terpaksa menghindar menyelamatkan diri ke
pedalaman Gayo, karena kehabisan atau kekurangan persenjataan perang.
Sementara abang Datu
saya, juga terlibat dalam perang melawan kolonial Belanda, yang mengakibatkan salah satu tangannya putus (buntung), akibat terjangan peluru musuh (serdadu Belanda). Akhirnya, cok
seulop menghindar untuk menyelamatkan diri ke pedalaman Gayo, menetap di Kampung Bintang,
di tepi Danau Laut Tawar, Acheh Tengah. Beliau, yang digelari dengan TENGKU BUNTÔNG,
menikah dengan wanita Gayo. Hingga sekarang zuriatnya masih berada di Kampung Bintang.
Alhamdulillah hubungan silaturrahmi di antara sesama kami (Kenawat-Bintang) masih akrab
hingga sekarang.
Sementara itu, adiknya, yaitu Datu lelaki saya (nama?) Selama menetap di Kampung Kenawat,
telah melucuti gelar Ulèëbalang (Teuku), dengan maksud supaya tidak bocor kepada pihak
inteligen Belanda dan kalangan masyarakat Gayo yang dinilainya kurang menyenangi gelar Teuku
1 Sumber: Sebagian besar informasi ini sudah dimuat dalam Encyclopedia - Wikip
dari Acheh Pesisir. Bagaimanapun, gaya hidup sebagai stereotype Ulèëbalang tetap melekat.
Buktinya, beliau memiliki harta kekayaan dalam bentuk lahan tanah, perkebunan dan lahan sawah
yang luas yang terletak di beberapa lokasi. Perkebunan Pisang dan Sawah misalnya, terdapat di
Pintu Rime; … Perkebunan Pisang di Bur Kucak dan Sawah di kawasan Ume Lah; … Kebun Serule
di Geldog dan Jurung; … lahan tanah di Bukit, berdekatan Kampung Kenawat dan bangunan
rumah. Beliau menikah dengan Empun Dari (seorang wanita Gayo Kampung Kenawat). Pasangan
ini mempunyai dua anak lelaki:
1. Ra´di (bin?)
2. Ahmad (bin?). Menikah dengan seorang janda dari Kampung Kebayakan yang mempunyai
dua anak lelaki (Muse dan Aman Siti Ralik)
3. Mengadopsi seorang anak perempuan dari keluarga lain, menikahkan dengan seorang
pemuda berasal dari Asir-Asir; mendapat harta pusaka dari Datu berupa lahan sawah yang
luas.
4. Mengislamkan seorang keturunan China, sakaligus menjadi anak angkat, mendapat harta
pusaka (lahan sawah) yang luas.
Ra´di menikah dengan Juriah bt Sultan, berasal dari Kampung Penosan, Gayo Lues, yang
tangan kirinya cacat, akibat terjangan peluru pasukan Mareuchausse. Selonsong peluru tetap
tertanam di lengan kirinya, hingga dibawa mati. Pasangan ini dikaruniai anak:
1. Jaimah ( Beru) bt Ra´di (Inen Sakdiyah)
2. Burak bin Ra´di (Aman Aisyah)
3. Ibi Bur (Inen Semédah)
4. Ibi Paloh (Inen Sirajuddin)
5. Ali Hasyim bin Ra´di (Aman Oya Zulfikar). Profesi Polisi, pangkat terakhir Letkol di Jakarta.
6. Abdul Gani bin Ra´di (Aman Firdaus). Menjadi Kepala Kampung Kenawat selama 27 tahun
lamanya (1963-1990).
Juriyah bt. Sultan (Nenek dari sebelah Ayah) adalah anak perempuan bungsu dari Sultan
(Panglima Cék Penosan). Beliau mati syahid dalam perang melawan kolonial Belanda (pasukan
Mareuchaussee) di Kampung Penosan, 1904. Sultan (Panglima Cék Penosan) mempunyai tiga
anak:
1. Mahmud bin Sultan (Panglima Muda Penosan), abang sulung Juriyah (syahid dalam medan
perang di Penosan, 1926. Ditembak mati sedang mengerjakan shalat Isya dalam Masjid
Penosan.
2. Merah Pupuk bin Sultan, abang muda Juriyah (dalam usia di bawah umur (15-16 tahun),
diculik oleh pasukan Mareuchaaussee di Kampung Penosan tahun 1904), hingga tidak
diketahui rimbanya. Hanya Allah Yang Maha Tahu.
3. Juriyah bt. Sultan, yang saat ditembak serdadu Belanda, berusia 13 tahun.
Khatijah (bt?) (orang Gayo, asal Kenawat). Nenek dari sebelah Ibu saya ini, menikah dengan
Habib Putéh, seorang pedagang tembakau dan sekaligus seorang Ulama (Habaib) di Kabu Jeuram
Meulaboh. Kuburannya hingga sekarang dikeramatkan oleh penduduk setempat dan sekitarnya.
Pasangan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Tjut Wan Juriyah bt. Habib Putéh atau
dipanggil juga dengan (Hamidah). Dari suami kedua (Bakri), Khatijah (bt?) dikaruniai seorang
anak lelaki, bernama Nurdin Bakri.
Abdul Gani menikah dengan Tjut Wan Juriyah bt. Habib Putéh (Hamidah). Pasangan ini
dikaruniai beberapa anak:
1. Firdaus Habib bin Abdul Gani
2. Dailami Habib bin Abdul Gani
3. Yusra Habib bin Abdul Gani
4. Ali Balwi Habib Abdul Gani
5. Rahmatsyah Habib Abdul Gani (meninggal dalam medan perang Acheh, 1999 di Acheh
Tengah. Hingga sekarang mayatnya tidak ditemukan)
6. Sarifah bt. Abdul Gani
7. Mardiyah bt. Abdul Gani
8. Khadijah bt. Abdul Gani
9. Iftah Habib Abdul Gani (meninggal dalam medan perang Acheh, 2001 di Acheh Tengah.
Mayatnya baru ditemukan pada tahun 2006 di kawasan Kelupak Mata, Acheh Tengah)
10. Makmur Habib Abdul Gani
TAHAP SELANJUTNYA:
Dr. H. Yusra Habib Abdul Ghani S.H.
Lahir di Kenawat, Takengon (Acheh Tengah), 12 April, 1954.
PENDIDIKAN
1. MIN + Sekolah Dasar Kenawat (1961-1966)
2. Tsanawiyah Bom Takengon (1967-1970)
3. STM Pertanian Takengon (1971-1973)
4. PGSLP, jurusan Seni rupa, Jakarta, 1975
5. Memperoleh beasiswa mengikuti Kursus Asisten Advokat (1979-19980).
6. Meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum UM-Jakarta,1983.
7. Meraih gelar Sarjana Hukum (Lulus ujian negara) pada Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, 1984.
8. Meraih gelar Doktor Falsafah dari Universiti Kebangsaan Malaysia, 2016
PEKERJAAN SELAMA BERADA DI JAKARTA
1. Guru SMP Negeri 69 Jakarta, 1976-1990.
2. Asisten Bismar Siregar, SH dalam studi Hukum Pidana pada Fak. Hukum UMJ,
1984-1990
3. Staff pengajar FH-UMJ, 1984-1990
4. Sekretaris Jurusan Hukum Pidana FH-UMJ, 1986-1990.
5. Manggala BP-7, 1985-1990.
6. Salah seorang anggota team pembahas materi Undang-undang Perlindungan Anak
dan perbaikan materi Buku ke-II KUHPidana di BPHN tahun 1985-1986.
7. Pengacara pada Kantor Pengacara ´Mukhtar Luthfi, SH Dkk. tahun 1985-1990.
AKTIVITAS NON AKADEMIK DAN AKADEMIK
• Menjadi Anggota Kehormatan dalam Perhimpunan Mahasiswa Hukum Minangkabau,
1982.
• Sekjen Lembaga Penyuluhan Hukum Mahasiswa Indonesia (LPHMI), 1983-1984.
• Ketua 1 Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia, 1981-1982.
• Anggota Korp Muballigh Jakarta, 1985-1987.
• Ketua 1 Majlis Pemuda dan Mahasiswa Acheh (MPMA), Jakarta.
• Pemimpin Redaksi Majalah “SUARA MASYARAKAT ACHEH” (1985-1986), Jakarta.
• Pemimpin redaksi Bulletin Hukum, Fakultas Hukum UMJ (1986-1990).
• Ketua „Pemuda Pengkaji dan Pemahaman Islam“ Jakarta, 1985-1986.
• Pemimpin Redaksi Bulletin „HARIE“, Jakarta (1987-1988), dikelola oleh Ikatan Pemuda
Gayo Jakarta.
• Salah seorang Nara Sumber dalam Internasional Conference di UKM, tahun 2012
• Salah seorang Nara Sumber dalam Internasional Conference di UNSYIAH, tahun 2014.
KARYA-KARYA ILMIAH SELAMA BERADA DI IDONESIA
1. Editor buku: ”ANEKA RAGAM PUTUSAN HAKIM BISMAR SIREGAR, SH (1984-
1986). Fakultas Hukum UMJ, 1988.
2. Ketua Team Editor hasil Seminar tentang: ‘IMPLEMENTASI HUKUM ACARA
PIDANA INDONESIA’, 1989.
3. Menulis SEJARAH BERDIRINYA FAKULTAS HUKUM UMJ, 1988.
4. Menulis artikel tentang hukum dalam: Sinar Harapan, Merdeka, Kompas dan Suara
KARYA-KARYA ILMIAH SELAMA MENETAP DI LUAR NEGERI
1. Menulis buku berjudul: MALAPETAKA DI BUMI SUMATERA, 1993.
2. Menulis buku berjudul: REMAJA DI PERSIMPANGAN JALAN, 1994. Rencananya
diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Kuala Lumpur. Oleh situasi
politik Acheh Merdeka semakin meruncing, penerbitan buku ini terkendala.
3. Aktif menulis tentang sejarah, politik dan sosial budaya dalam Tabloid “HARAKAH”,
Kuala Lumpur, Malaysia (1990-1998)
4. Aktif menulis tentang sejarah, politik dan sosial budaya dalam Majalah Politik
‘SUARA ACHEH MERDEKA’ periode (1991 – 1998)
5. Menulis buku berjudul: MENGAPA SUMATERA MENGGUGAT, tahun 2000.
6. Aktif menulis tentang sejarah dan politik dalam Tabloid Mimbar Kutaraja, Banda
Acheh periode ( 2001-2004).
7. Menulis buku berjudul: STATUS ACHEH DALAM NKRI, tahun 2008.
8. Aktif menulis artikel dalam kolom Opini Serambi Indonesia tentang falsafah, politik,
budaya, hukum, ekonomi, sejarah dan agama (2008-2020).
9. Menulis buku berjudul: SELF-GOVERNMENT (Study Banding Tentang Desain
Administrasi Negara) tahun 2009.
10. Menulis buku berjudul: STRATEGI BELANDA MENGEPUNG ACHEH, tahun 2015.
11. Menulis buku berjudul: ACHEH TERSUNGKUR, tahun 2018
12. Menulis buku berjudul: MARECHAUSSEE DI GAYO LUES, 1904, tahun 2018.
13. Menulis buku berjudul: GAYO DAN KERAJAAN LINGE, tahun 2018.
14. Menulis buku berjudul; KEABSAHAN NEGARA ACHEH DARUSSALAM, tahun 2020.
15. Menulis buku berjudul: ACEH, SEJARAH MENDAULATKAN NEGARA ISLAM, tahun
2021, diterbitkan oleh Universiti Malaysia.
16. Menulis buku berjudul: LEGENDA DAN FALSAFAH GAYO, 2021.
17. Menulis (editor) buku berjudul: POLITISI BELANDA MENGUTUK KEKEJAMAN
MARECHAUSSEE DI ACHEH, tahun 2021.
18. Menulis buku berjudul: BUKU PUTIH Acheh Selalu Gagal Manfaatkan
Kemerdekaan Kembali, Di mana Silap dan Salahnya, tahun 2021.
19. Menulis buku berjudul: SANAD DAN MATAN DOKUMEN ACHEH DARUSSALAM,
tahun 2022.
20. Menulis Buku berjudul: NEGARA ACHEH DARUSSALAM DALAM LINTASAN
SEJARAH, tahun 2023.
21. Editor buku berjudul: CATATAN TENGKU HASAN DI TIRO YANG TERCÈCÈR, tahun
2023.
22. Menulis Buku berjudul: MERETAS IDENTITAS GAYO {Himpunan Kajian Tentang:
Kepercayaan, Sejarah, Eko sistem Lingkungan, Falsafah, Ekonomi, Politik, SeniBudaya, Adat-Istidat Gayo. Tahun 2023.
23. MENGUKUR KEBSAHAN HUKUM POSITIF MELALUI INTERPRETASI (Suatu
Keberanian Berfikir Yang Tidak Terukur ), tahun 2023.
24. SUCCESSOR OF STATE, MAKSUDNYA APA? (Suatu Tinjauna Historis, Yuridis dan
Politis), tahun 2024.
25. Penulis naskah Surat Diplomatik PNAD yang dikirim kepada 29 Kepala negara
seluruh dunia, tahun 2021.
26. Perumus berkas Gugatan PNAD kepada Belanda, Jepang dan Indonesia, untuk
diajukan kepada Mahkamah Internasional di Den Haaq, Netherlands, tahun 2022.
27. Perumus tunggal Naskah QANUN MEUKUTA ALAM (QANUN AL-ASYI) atau
Konstitusi Negara Acheh Darussalam yang terdiri dari 37 pasal. Naskah ini
Kemudian dibahas dalam Persidangan Anggota Majelis Negara Acheh Darussalam
yang terdiri dari 24 orang, yang berlangsung sebanyak 7x putaran. Naskah
Meukuta Alam ini kemudian diserahkan untuk disetujui oleh Qadhi Malikul ´Adil
(anggota 3 orang), untuk disahkan menjadi Konstitusi negara Acheh Darussalam,
berlaku surut sejak 29 Desember 2020. dirumuskan pada tahun 2023.
28. Perumus naskah PEMBAGIAN DAN PEMISAHAN KUASA ANTARA Institusi Militer
dan Pegawai Sipil di lingkungan Pemerintah Negara Acheh Darussalam, tahun
2022.
29. Menulis buku berjudul: KEMAKSIATAN BERPIKIR DAN PENGKHIANTATAN
INTELEKTUAL MUSLIM {Kasus Indonesia 1901-2024}, tahun 2025.
30. Menulis buku berjudul: ACHEH: SUCI DALAM DEBU, tahun 2025
31. Menulis buku berjudul: MENGUTUK Tarian “PANG TIBANG” DENGAN KEMARAU
KEMAHARAN. Menyingkap kemungkaran berfikir dan Meluruskan Qiblat Politik
Bangsa Acheh, tahun 2026.
32. Perumus tunggal QANUN JENAYAH ISLAM ACHEH DARUSSALAM, Desember,
2025.
33. CATATAN TEPI TENTANG KEBANGGAAN PERADABAN ACHEH DARUSSALAM,
2026
RIWAYAT HIDUP YANG GETIR DAN PAHIT
- Ditangkap oleh pasukan Intelijen Polisi Negeri Johor (pada 27 April 1998), dipimpin
langsung oleh Michael Ong (Kepala Intelijen Negeri Johor) dan ditahan dengan status
tahanan ‘Intern Security Act’ (ISA), di Penjara Bukit Aman, Penjara Jalan Ipoh, Balai Polis
Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia (27 April-29 Juni 1998).
- Diusir oleh Kerajaan Malaysia (Perdana Menteri Mahathir Muhammad) atas tuduhan
merugikan/menjejaskan kepentingan politik dan perdagangan dalam dan luar negeri
Malaysia. Kemudian UNHCR Kuala Lumpur dan UNHCR Geneva mengantar saya bersama
keluarga ke negara ketiga -Denmark) pada 29 Juni 1998.
RIWAYAT JABATAN: (PERIODE: 1990-2002)
• Ketua Biro Penerangan Acheh Merdeka, bermarkas di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun
1991-1992.
• Diangkat oleh Tengku Hasan M. Di Tiro, sebagai Pemimpin Redaksi Majalah politik
“SUARA CHEH MERDEKA” (1991-1998).
• Diangkat oleh Tengku Hasan M. Di Tiro, sebagai Pemimpin rombongan 44, menduduki
Kantor UNHCR, Kuala Lumpur, pada 22 Juni 1992-1994.
• Diangkat oleh Tengku Hasan M. Di Tiro, sebagai Ketua/Anggota Komite Pelarian Politik
Acheh di Malaysia (1995-1998)
• Dilantik Tengku Hasan M. di Tiro, bertindak untuk dan atas nama negara negara Acheh
Darussalam, menandatangani MoU antara EMPAT PIHAK: Pemerintah Acheh
Darussalam di Pengasingan (Malaysia), Duta Besar Switszerland untuk Malaysia, Duta
Belanda untuk Malaysia dan Perdana Menteri Malaysia, dalam rangka pembebasan
Pelarian politik yang menduduki Kedutaan Switszerland dan Belanda, Malaysia tahun
1997.
• Kepala Kantor AM, bermarkas di Jalan Batu Caves, Selayang, Selangor Darul Ehsan
1996-1998.
• Utusan Acheh ke Sidang Tahunan UNPO, Thalin - Estonia, 2002.
• Salah seorang juru runding AM dalam perundingan antara AM-RI tahun 2000 & 2002
di Geneva.
• Pembicara dalam Seminar tentang isu Acheh di Kôln, Jerman tahun 2002, wakil Acheh
Merdeka.
• Pemimpin Redaksi ASNLF.com (tahun 2002-2005)
• Salah seorang wakil Acheh Merdeka dalam Seminar tentang Isu Acheh di Finlandia,
tahun 2003.
• Director “Institute for Ethnics Civilization Research”, 2007.
• Penggagas berdirinya Dewan Adat Gayo (DAG), merumuskan Anggaran Dasar dan
Tumah Tangga/AD/ART DAG dan Konferensi Gayo Sedunia tahun 2010. Belum
terlaksana.
• Dicalonkan oleh 13 wilayah negara Acheh Darussalam, untuk disumpah dan dilantik
menjadi PERDANA MENTERI ACHEH DARUSSALAM pada 3 Desember, 2020.
Kjærslund, Aarhus, Mei 2026
YANG IKHLAS,
Dr. H. YUSRA HABIB ABDUL GANI, S.H.

Social Header